[Jangan Lakukan Ini] Kecanduan Pada Statistik Blog, Pergunakan Sebagaimana Mestinya


Statistik itu penting. Apalagi di zaman sekarang ini dimana persaingan begitu ketat dalam segala hal, menguasai ilmu statistik yang dikenal dengan statistika bisa menjadi penentu kalah menangnya dalam persaingan. Penguasaan dan pemahaman terhadap data akan memberikan keuntungan kompetitif bagi siapapun.

Itulah mengapa bahkan perusahaan besar semacam Toyota, Microsoft, dan banyak lainnya memiliki bagian tersendiri yang menangani statistik.

Begitu juga dalam hal blogging atau ngeblog.

Penting bagi seorang blogger, terutama yang berkeinginan untuk menjadi tenar atau sukses dalam ngeblognya, untuk bisa memanfaatkan data yang disediakan secara gratis oleh Google, Analytics atau Webmasters atau Adsense.

Tidak heran, hal pertama yang selalu disarankan para blogger senior atau tutorial tentang blogging adalah "keharusan" untuk  mengaitkan blog dengan Google Analytics atau Webmaster. Hal ini, walau banyak salah kaprahnya juga, akan membantu para blogger untuk mendapatkan data dari mesin pencari Google.

Statistik ini pula yang memicu lahirnya banyak jenis plug in atau widget statistik lain, seperti Hi-Stats untuk Wordpress.

Kesemuanya bertujuan dan menawarkan hal yang sama, yaitu agar para blogger memiliki data statistik terkait dengan blog yang mereka kelola.

Para blogger pun tahu bahwa hal itu bisa membantu dalam memenangkan persaingan di dunia blogging, yang ketatnya tidak beda dengan kompetisi di pasar kaos kaki dunia. Ketat bin keras.

Itulah mengapa mayoritas blogger secara tidak sadar meluangkan cukup banyak waktu untuk memelototi data yang disediakan gratis oleh Google itu. Banyak blogger melakukannya paling sedikit sehari sekali, tetapi tidak terhitung banyaknya yang memandangi pergerakan data.


Dan, terus terang, fenomena semacam saya anggap KONYOL dan TIDAK BERGUNA.

Melihat statistik blog setiap hari atau sehari tiga kali seperti makan obat dokter itu adalah tindakan yang sebenarnya sia-sia. Membuang waktu saja dan menunjukkan gejala kecanduan. Tingkah laku seperti ini menunjukkan bahwa si pemakai tidak mengetahui apa itu ilmu statistika dan cara menggunakan statistik dengan benar.

Kesemuanya lebih merupakan cerminan ego, nafsu, dan keterburu-buruan.

Statistik adalah tentang mengamati "POLA" yang disuguhkan dalam bentuk data dalam bentuk angka.

Kumpulan data yang ditampilkan di Google Webmaster Tools adalah data yang berkaitan dengan berapa banyak pengunjung yang didatangkan Search Engine Google ke sebuah blog atau website. Data yang ada tidak termasuk data pengunjung yang datang secara langsung, dari media sosial. GWT khusus memajang data pengunjung dari Mesin Pencari saja.

Berbeda dengan data Google Analytics, dimana data keseluruhan, baik dari Search Engine/Mesin Pencari, atau media sosial, atau langsung. Semua data ditampilkan dan dibuatkan grafiknya.

Kesemuanya ini membentuk sebuah pola tersendiri. Kapan waktu umum pengunjung datang, kapan mereka pergi, waktu puncak pengunjung terbanyak, dan masih banyak hal lainnya.

Semua berbicara tentang POLA dalam jangka waktu tertentu.

Seorang ahli atau pengguna statistik harus mampu menetapkan "jangka waktu" tertentu ini yang kemudian harus dianalisa, diinterpretasi, dan kemudian diwujudkan dalam langkah yang diambil.

Nah, disitulah LUCUNYA. Pola apa yang bisa dilihat saat seorang blogger melihat dashboard setiap satu jam sekali atau satu hari sekali.

Disana polanya belum jelas karena data yang terkumpul sebenarnya tidak akan berubah terlalu banyak. Sinyal-sinyalnya tidak mencerminkan apa-apa.

Coba bayangkan saja, pada jam 10.00, jumlah pengunjung search engine 100 UV (Unique Visitor) dengan 200 PV (Pageviews). Kemudian, jam 11.00 cek lagi, pengunjung menjadi 250 UV dan 650 PV. Jam 12.00, mencapai 300 UV dan 750 PV.

Nah, kira-kira pola pergerakan pengunjung seperti apa? Apakah naik dan turun? Apakah memang akan seperti itu terus menerus? Apakah hal itu akan berlaku mingguan?

Jawabannya, TIDAK JELAS karena data yang ada hanya dalam rentang 2 jam saja.

Lalu, apa gunanya? Ilmu statistik, statistika, memiliki empat langkah yang saling berkaitan, mengumpulkan, menganalisa, menginterpretasi, mewujudlkan dalam tindakan.

Dengan data sejak jam 10-12, maka yang bisa dilakukan hanya langkah :

1. Mengumpulkan : sudah dilakukan Google

2. Menganalisa & Meninterpretasi :menterjemahkan data yang hanya sedikit sangatlah dihindari oleh para pengguna statistik. Mereka sebisa mungkin akan menunggu hingga data dianggap "cukup" untuk bisa dianalisa dan diinterpretasi. Tidak ada perusahaan yang mau menganalisa data yang baru masuk dua jam untuk emngambil keputusan jangka panjang. Kemungkinan kesalahan akan teramat sangat besar. Itulah kenapa KPU (Komite Pemilihan Umum) memberikan tenggang waktu lumayan lama sebelum mengumumkan hasil pemilihan

3. Mengambil tindakan : sebuah keputusan atau tindakan, biasanya sulit memperlihatkan efek secara langsung. Dokter saja sering memberikan waktu 3 X 24 jam untuk melihat reaksi dari obatnya. Bayangkan saja kalau mereka memberikan obat A kepada pasien jam 10 dan kemudian jam 12 merubahnya menjadi obat B, dan jam 14.00 mereka memberikan resep obat B kepada pasien. Yang ada pasien akan mati.

Begitupun pada sebuah blog.

a) jam 10.00 : pengunjung naik sampai 100%, si blogger pamer di Forum IAPD dan berkoar "blog saya hebat kedatangan pengunjung naik sampai 100%". Dia memutuskan tidak melakukan tindakan apa-apa.

b) jam 11.00 : pengunjung turun 50%, balik ke grup IAPD dan mengeluh, "Mastah kenapa ya blog saya pengunjungnya turun sampai 50%" sambil mencoba mengutak-atik dan mencari backlink supaya pengunjung terus bertambah.

c) jam 12.00 : pengunjung naik lagi 25%, celotehan riang "hebat ya backlink dari blog zombie, pengunjung langsung naik 25%" akan keluar. Dia kemudian mencari backlink lagi.

d) jam 13.00 : pengunjung turun lagi 100%, sang blogger memaki, "Backlink ini payah, nggak memberikan hasil".

Bisa terbayang kan?

Memang ekstrim contohnya, tetapi bukankah banyak yang melakukannya, melihat data statistik Google Analytics atau Adsense setiap jam, atau setiap hari?

KONYOL. Menunjukkan bahwa yang melakukannya KECANDUAN terhadap data. Membuang banyak waktu hanya sekedar untuk memuaskan EGO saja.

Coba pertanyakan saja, apakah pengunjung dari Search Engine Google akan bertambah dengan Anda memelototi data di Google Webmaster? Apakah pengunjung akan langsung naik begitu Anda menerbitkan satu artikel?

Jawabnya TIDAK.

Mesin perayap Google akan membutuhkan waktu beberapa hari begitu mendapat "ping" tanda sebuah artikel baru terbut. Ia tidak langsung menuju blog Anda. Para robot perayap juga sibuk karena ada jutaan blog dan website di dunia.

Mereka butuh waktu.

Jadi, sama sekali tidak ada gunanya melihat statistik blog setiap jam atau hari, selain untuk membuat senang, atau memuaskan ego saja. Banyak waktu terbuang. Emosi menjadi tidak stabil, terutama kalau melihat datanya tidak menyenangkan alias turun atau masih sedikit.

Pergunakan data statistik sebagaimana mestinya.

Blogging atau ngeblog adalah sebuah perjalanan panjang dan rencana sudah seharusnya dibuat dalam tahap-tahap tertentu. Setiap tahap inilah yang membutuhkan data untuk dianalisa.

1. Tahap Kontrol : blog harus dipelihara dan untuk melihat kesehatannya, melihat statistik di Analytics atau Webmaster perlu dilakukan secara berkala setiap minggu (kalau ada waktu yah!). Lihat pola yang ada, apakah menaik atau menurun.

Kalau tren naik, berarti BAGUS, kalau tren turun, berarti ada sinyal bahwa kesehatan blog (dari sisi jumlah pengunjung menghadapi masalah).

Perlu lakukan tindakan? Kecuali pengunjung menjadi 0, tidak ada yang perlu dilakukan, cukup amati sinyal saja.

2. Tahap Koreksi : kalau statistik yang ada menunjukkan bahwa tren TURUN terjadi secara berturut-turut selama 3 kali (yang berarti 3 Minggu), harus disimpulkan ADA YANG TIDAK BERES. Analisa lebih dalam kemungkinan penyebabnya, dan lakukan tindakan koreksi.

3. Tahap Pengembangan : anallisa pola dari data statistik yang ada setiap tiga bulan perhatikan tren pengunjung blog dan cari apa yang kemungkinan bisa dikembangkan lebih lanjut. Tahap ini juga bisa dipakai menentukan arah sebuah blog.

YANG PASTI, tidak perlu setiap jam atau setiap hari datanya dilihat. Itu pekerjaan mereka yang bekerja di lembaga survey saat quick count dan bukan pekerjaan blogger.

Tidak perlu jadi orang konyol dan kecanduan sesuatu yang tidak jelas, seperti kecanduan statistik blog. TIDAK ADA GUNANYA SAMA SEKALI. Daripada memandangi data seperti itiu, jelas lebih baik menulis dan menghasilkan tulisan baru.

Hal itu sudah kodrat seorang blogger dan jelas membantu berkembangnya sebuah blog. Pasti itu.

Tetapi, ada satu lagi yang lebih enak sebenanrya dilakukan saat ngeblog, yaitu saat tidak memiliki target atau tujuan tertentu selain untuk memuaskan kesenangan menulis saja. Saar itu, sebenarnya ada Google Webmaster atau Analytics atau Hi-stats juga tidak masalah.

Tidak perlu diurusin.

Jadi, berapa kali Anda melihat statistik blog dalam sehari kawan? 1X? 2X? 20X?






Mungkinkah Menulis Sebuah Artikel Dalam 15 Menit


Kenapa tidak? Mengapa tidak bisa menulis sebuah artikel dalam waktu 15 menit saja. Mengapa sepertinya menulis itu seakan sebuah pekerjaan yang terlalu rumit dan tidak mungkin dilakukan dalam waktu yang singkat.

Banyak orang yang sudah pernah melakukannya. Banyak juga yang bahkan sudah membuatkan panduannya bagaimana menghasilkan sebuah tulisan dalam waktu yang jauh lebih seidkit dibandingkan memasak sayur itu.

Tidak rumit kok.

Syaratnya hanya satu, atau dua paling banyak.

Yang pertama, kita sudah terbiasa menuangkan pikiran atau ide ke dalam bentuk tulisan. Tanpa menjadikan kegiatan menulis sebagai sebuah kebiasaan, maka hampir tidak mungkin bisa menghasilkan tulisan dalam waktu yang singkat.

Yang kedua, kita memiliki pengetahuan tentang apa yang mau ditulis. Mencoba menulis tentang hal yang tidak kita mengerti tidak akan menghasilkan apa-apa, bahkan ketika waktu yang disediakan berjam-jam lamanya.

Keduanya adalah inti bagi siapapun yang bisa menulis dengan cepat.

Banyak blogger yang mengatakan bahwa tidak mungkin menghasilkan sebuah tulisan dalam jangka waktu yang singkat. Kalaupun bisa, maka kualitasnya akan diragukan.

Padahal tidak demikian adanya.

Selama seorang penulis dapat menuangkan ide secara runtut, terstruktur, dan berisi, maka sebuah tulisan akan tetap memberikan arti, makna, dan manfaat bagi yang membacanya.

Tulisan tersebut akan bisa dipandang sebagai sesuatu yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebuah tulisan yang lahir dalam waktu yang panjang tidak selalu akan berarti lebih baik dari yang dibuat dalam waktu yang lebih singkat. Begitupun sebaliknya.

Kemampuan sang penulis lah yang menentukan.

Salah seorang yang mampu menghasilkan tulisan dalam waktu yang singkat adalah Mbak Indri Lidiawati, sang pemilik blog Juragan Cipir. Ia pernah menuliskan pada blog legendaris tersebut kalau ia mampu menulis dalam waktu sekitar 10-15 menit saja.

Hasilnya bisa dikata "Not Bad" tidak buruk. Isinya bahkan lebih bermakna dan berjiwa dibandingkan banyak tulisan penulisnya gemar mempromosikan bahwa menulis itu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat.

Lebih berkarakter , memiliki ciri khas, dan menginspirasi orang banyak. Bukankah karena itu blognya "pernah" menjadi salah satu yang terbaik menurut "PanduanIM". Bukankah tulisan-tulisan sederhana yang dibuat hanya dalam hitungan menit saja menjadikan penulisnya sebagai panutan banyak blogger lainnya?

Bukankah begitu?

Jadi, jangan pernah percaya kalau ada orang yang menyebutkan bahwa sebuah tulisan atau artikel tidak bisa dibuat dalam waktu 15 menit saja.

Orang tersebut berarti sedang berhalusinasi dan seperti sedang hidup di dunianya sendiri saja. Ia bagai katak dalam tempurung yang tidak pernah melihat luasnya dunia.

Katakan pada mereka "BULLSHIT", omong kosong!

Selama Anda sudah terbiasa menulis artikel dan memiliki pengetahuan tentang apa yang akan ditulis, maka semuanya mungkin. Lima belas menit adalah waktu yang cukup lama untuk menghasilkan tulisan atau artikel sepanjang 200-300 kata.

Bukan hal yang sulit.

Tidak percaya?

Tulisan ini dihasilkan dalam waktu hanya 10 menit saja. Termasuk mencari foto dan melakukan satu kali koreksi saja.

Soal kualitas? Silakana nilai saja sendiri apakah memang tulisan ini sebegitu buruknya sehingga tidak memberikan apa-apa kepada yang membaca.

Paling tidak, tulisan ini akan memberitahukan kepada pembacanya bahwa menulis sebuah artikel dalam 15 menit adalah sebuah hal yang mungkin, dan bukan hal yang mustahil seperti kata banyak orang.

Kembali ke Juragan Cipir Untuk Mengobarkan Semangat Ngeblog Kembali

Boleh lah Anda ketawa. Tidak masalah. Kebanyakan blogger Indonesia tahu bahwa salah satu blog terkenal ini, Juragan Cipir, sudah lama tidak diupdate. Tidak ada lagi tulisan baru yang diterbitkan oleh pemiliknya, si legendaris Indri Lidiawati.

Saya tahu dan menyadari hal itu.

Disana juga saya tidak banyak membuka artikel-artikel yang sudah ada karena kebanyakan saya sudah membacanya bahkan beberapa kali.

Lalu untuk apa saya lakukan hal itu kalau tidak berniat membaca?

Jawabannya ....


Mencoba mengobarkan semangat ngeblog pada diri saya sendiri.

Selama beberapa waktu terakhir kesibukan mengurus warga di lingkungan membuat kehidupan saya sebagai blogger menemui hambatan. Perhatian teralihkan dan lambat laun ternyata hal itu berpengaruh sekali terhadap aktifitas ngeblog. Konsistensi ngeblog menjadi sangat terganggu.

Tidak berarti saya seratus persen hiatus dan tidak menulis. Masih, saya masih menulis setidaknya sekali sehari.


Sayangnya, hal itu bagi saya sendiri adalah sebuah level terendah karena sebelum ini saya masih memproduksi paling tidak 2-3 artikel dalam 24 jam. Sebelum itu bahkan bisa 5-10 artikel. Maklumlah koleksi blog saya lumayan banyak, jadi angka 5-10 artikel itu adalah jumlah minimum dan seharusnya justru harus lebih dari itu.

Nah, walau kata banyak orang 1 artikel perhari sudah bagus, bagi saya sebenarnya kurang jauh. Performa dan produktifitas saya menurun drastis.

Setelah dipelajari beberapa waktu, masalah utama adalah soal semangat yang menguap entah kemana. Keasyikan mengurus dan terlibat dalam kepengurusan RT membuat ngeblog seperti disingkirkan.

Alhasil, semangatnya hilang entah kemana.

Untuk mencoba mengembalikan semangat yang hilang itulah saya kembali ke Juragan Cipir.

Bukan untuk mencari tulisan baru, saya sudah tahu tidak akan menemukan hal itu. Pemiliknya entah lagi sibuk ngapain di belahan dunia lain. Juga saya mengabaikan tulisan yang bukan ditulis oleh Indri Lidiawati.

Terus terang kurang seru baca karya penulis yang lain.

Kenapa demikian? Karena ada satu ciri khas dari tulisan ala Mbak Indri di blognya itu dan tidak ada di artikel-artikel karya blogger lainnya.

Ciri itu adalah semangat yang menggebu-gebu dari sang pemilik. Semangatnya mengejar penghasilan Adsense yang besar. Semangatnya menghasilkan ribuan tulisan. Semangatnya berbagi. Semangatnya menceritakan tentang kehidupannya sebagai blogger dan Adsenser.

Itulah yang saya cari.

Karya tulis Mbak Indri tidaklah luar biasa. Biasa saja. Standar dan normal. Tetapi, semua bagi saya menjadi "luar biasa" ketika jiwa dan semangat pemiliknya ada disana. Karakter, sifat dan semangatnya sang Indri Lidiawati itu menular.

Sesuatu yang saat ini saya butuhkan untuk mengembalikan kadar semangat ngeblog kembali ke level semula. Saya butuh itu untuk menjadi aktif kembali dalam menulis. Satu artikel perhari tidak cukup bagi saya, entahlah bagi orang lain. Saya mau lebih dari itu.

Tidak ada masalah dengan ide. Saya sendiri masih menyimpan banyak sekali ide dan foto yang belum dituangkan jadi tulisan.

Yang jadi masalah adalah perubahan dalam diri saya sebagai blogger yang mulai termakan oleh kegiatan di dunia nyata. Hal itu harus segera dibenahi karena kalau tidak maka akan terus menurun dan saya pada akhirnya menjadi tidak produktif lagi.

Nah, berkunjung dan bermain di Juragan Cipir adalah salah satu cara untuk mengembalikan semua pada posisi sebelumya.

Apakah berhasil? Saya rasa YA. Setidaknya tulisan ini adalah hasil setelah 5 menit selesai menutup blog legendaris itu.

Yang lain, akan menyusul kemudian.

Blogger Lifestyle dan Traveling Wajib Bisa Memotret Dengan Baik dan Benar

Blogger Lifestyle dan Traveling Wajib Bisa Memotret Dengan Baik dan Benar

Yah, terpaksalah kali ini saya harus menggunakan kata "wajib" untuk ngeblog. Padahal, sebagai seseorang yang berpandangan bahwa ngeblog adalah sebuah kebebasan berkreasi, kata "wajib" dan "harus" adalah sesuatu yang saya terus berusaha hindari.

Tidak ada wajib dan keharusan dalam urusan blogging. Semua terserah pada selera dan kemauan masing-masing blogger saja.

Cuma, setelah berkunjung ke beberapa blog, yang berkaitan dengan traveling, lifestyle, dan bahkan resep masakan, pandangan saya sedikit bergeser. Tidak banyak, sangat sedikit, tetapi tetap saja sedikit berubah.

Masalahnya karena ketika lihat foto-foto atau image yang ditampilkan dalam tulisan-tulisan di blog tersebut, kening saya berkerut. Tidak enak melihatnya. Ada yang terlalu seadanya, buram, tidak jelas fokusnya, kurang tajam, ada yang miring,  bahkan sampai yang tidak jelas apa kaitannya dengan isi dari tulisannya.

Sangat tidak enak melihatnya.

Bukan karena saya pecinta fotografi, jadi saya mendorong orang lain untuk bisa memotret dengan baik dan benar. Bukan pula karena saya tidak sadar bahwa blogging adalah urusan kebebasan berkreasi tanpa batasan.

Bukan karena itu semua.

Blog travel dan lifestyle akan merupakan media bagi sang blogger untuk mengekspresikan diri dan memperlihatkan kepada dunia tentang "SIAPA SAYA". Bagaimanapun blog kebanyakan akan dilihat oleh orang lain, kalau tidak mau dilihat ya menulis saja di diari.

Mau tidak mau ada tujuan ke arah sana.

Di blog jenis ini, sang blogger sadar atau tidak sadar memiliki tujuan memperlihatkan kepada khalayak ramai betapa "ia sudah berkunjung ke tempat yang indah", betapa "gaya hidupnya begitu unik dan luar biasa", betapa "ia sudah menjalani kehidupan" yang menyenangkan, betapa "ia sudah berkelana ke tempat yang luar biasa", dan sejenisnya.

Itulah tujuan menjadi seorang blogger travel atau lifestyle.

Terlepas dari apakah akhirnya memonetisasi atau menjadi tenar.

Nah, bagaimana hal itu bisa dicapai ketika ia menghadirkan foto-foto yang tidak enak dilihat pada blognya? Bagaimana dunia bisa percaya bahwa pemandangan yang dilihatnya luar biasa indah kalau fotonya saja gelap atau buram? Bagaimana ia bisa meyakinkan orang yang membaca bahwa ia pernah kesini atau kesitu ketika pembaca langsung hilang nafsu membacanya melihat foto yang miring dan membuat leher sakit untuk melihatnya?

Bagaimana?


Foto adalah salah satu kunci penting dalam dunia lifestyle dan traveling. Pembaca zaman now pasti membutuhkan bukti tentang hal itu selain rangkaian kata-kata yang bagus dan enak dibaca.

Bukti yang mereka butuhkan adalah .. ya foto tadi.

Bagaimana mengemas dan menampilkan foto dalam artikel adalah salah satu titik penting agar artikelnya bisa menyampaikan ide atau pesan?

Kalau mau lebih jauh lagi, bayangkan saja seseorang yang ingin orang lain melihat dirinya sebagai orang yang modis dan keren (blogger lifestyle kan memang mengarah kesini kan?), tetapi memakai pakaian yang robek dan lusuh. Akankah orang percaya?

Ya nggak lah.

Tidak ada orang yang mau meniru gaya hidup kotor, semrawut, miskin. Mayoritas orang akan meniru gaya yang wah, hebat, luar biasa dan mengundang decak kagum. Langka.. amat langka ada orang yang mau meniru gaya hidup pengemis, kebanyakan akan mencoba meniru gaya Syahrini yang mandi di Perancis, makan siang di Tokyo, sikat gigi di Hongkong, dan tidur entah dimana.

Begitu juga blog travel. Mana ada orang yang mau piknik ke kolong jembatan atau Tempat pembuangan Sampah? Itu namanya blog jurnalistik. Travel mengarah pada perjalanan wisata ke tempat-tempat indah.

Lalu, ketika yang ditampilkannya tidak enak dilihat, lalu apa yang diperlihatkan? Apa bukti yang dihadirkan? Data? Tiket pesawat? Kata-kata?

Foto itu penting, bagi kalangan blogger lifestyle atau travel.  Tanpa kolaborasi antara foto dan rangkaian kata, hasilnya tulisannya hanya berjiwa separuh saja. Tidak lengkap.

Itulah mengapa akhirnya saya berkesimpulan, bagi kedua golongan blogger ini bisa memotret "dengan baik" adalah sebuah hal yang "wajib". Foto adalah separuh roh dari artikelnya sendiri.

Tidak berarti harus bisa memotret ala fotografer profesional dan memakai kamera mahal. Kamera smartphone pun sudah cukup sekali.

Yang penting adalah foto itu enak dilihat, jelas, tidak buram, ada obyeknya, dan bisa mewakili ide atau pesan yang disampaikan. Misal, menulis tentang keindahan Danau Toba, ya usahakan fotonya berisi pemandangan birunya air, awan yang berarak di atas danau, atau yang seperti itulah.

Enak dilihat.

Tidak perlu memakai teknik yang ruwet bin rumit. Yang penting hasilnya enak dilihat.

Nah, kalau alasannya "tidak peduli sama pembaca" ya sudah. Tidak bisa saya ganggu gugat. Saya juga tidak begitu peduli apakah tulisan saya akan dibaca atau tidak.

Cuma.. ada cumanya.

Saya peduli pada diri sendiri.

Sudah kodrat sebagai blogger, saya selain menjadi penulis, otomatis saya juga pembaca. Saya memang tidak berpikir apakah tulisan saya akan dibaca orang lain, tetapi karena saya sudah pasti akan membacanya, maka saya juga harus memanjakan diri sendiri.

Caranya adalah dengan menghasilkan artikel ,yang paling tidak, enak dilihat dan dibaca oleh diri sendiri.

Saya tidak bisa mengerti apa enaknya melihat foto yang buram dan tidak jelas, serta tidak tahu apa yang disampaikan. Mungkin karena saya penggemar fotografi yah.

Maybe, bisa jadi. Tetapi, saya rasa semua manusia dibekali "rasa" sejak lahir dan ditempa dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, setidaknya ada standar kepatutan yang harus dipenuhi.

Begitu juga dalam dunia blogging. Meski kebebasan berkreasi adalah unsur utamanya dan memang harus tetap dipegang teguh, ada standar-standar kecil, yang harus dijadikan patokan.

Dalam hal dunia blogger lifestyle dan travel, standar-standar itu juga ada. Dalam hal ini menampilkan foto yang "pantas" adalah salah satunya. Itulah yang mengakibatkan kata "wajib" bisa memotret dengan baik harus disematkan.

Seberapa baik? Nah itu tidak ada batasannya. Selama jelas, tidak miring, tidak buram, tidak terlalu terang, tidak terlalu gelap bagi mata kebanyakan, sudah cukup. Tidak perlu terlalu berseni, biasa saja juga sudah ok.

Setidaknya, itulah pendapat saya dalam hal ini yah.

Kebetulan saya bukan blogger lifestyle atau traveling. Saya mah tidak jelas masuk genre blogger yang mana.

Kebanyakan Komunitas Blogger di Dunia Maya Dirusak Para Blogger Sendiri


Tinggal satu lagi. Ya, tinggal satu lagi komunitas blogger di dunia maya (internet) yang saya ikuti. Jumlahnya berarti tinggal sekitar 3% saja dibandingkan 3 tahun yang lalu saat saya memulai perjalanan kehidupan sebagai blogger.

Dulu, jumlah komunitas blogger yang saya ikuti mencaiap 30-40 buah, baik di dalam atau di luar negeri. Banyak sekali memang.

Tetapi, perlahan tetapi pasti sejak itu, angkanya menyusut dan hingga akhirnya, sampai tulisan ini dibuat hanya satu buah saja dimana nama saya masih tercatat sebagai membernya. Sisanya sudah ditinggalkan.

Bukan berarti saya sudah terlalu pandai dan menjadi master. Tidaklah. Sebaliknya, saya masih berpandangan bahwa membaca dan mencari pengetahuan adalah sesuatu yang wajib bagi seorang blogger. Bergabung dan menjadi bagian dari sebuah komunitas blogger bisa memberikan hal seperti itu.

Masalah utamanya adalah karena mayoritas komunitas blogger di Facebook atau Google Plus atau media sosial lainnya sudah berubah wujud.

Dari sebelumnya sebagai "komunitas" dimana membernya bisa berinteraksi satu dengan yang lain, wujudnya berubah menjadi tong sampah link.

Tidak ada lagi interaksi antar sesama blogger. Tidak ada canda. Tidak ada saling berbagi pengetahuan. Tidak ada yang namanya dukungan bagi para pemula.

Yang ada hanya deretan link dari blog-blog, yang entah apa isinya.

Persis seperti kuburan link internet. Boleh juga disebut tempat sampah.

Fungsi komunitasnya sendiri terhenti, mati.

Itulah alasan mengapa saya memutuskan keluar dari komunitas-komunitas blogger di dunia maya. Salah satu alasan saya bergabung ke sebuah komunitas blogger adalah mencari kawan dan pengetahuan.

Melihat isinya hanya berisi link-link saja benar-benar mematikan selera. Untuk apa saya bergabung ke sebuah komunitas kalau semua membernya sibuk memasarkan dirinya sendiri.

Tidak ada gunanya.

Komunitas bisa hidup dan berjalan ketika para anggotanya tidak terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Mereka harus mau berbagi, berinteraksi menganggap anggota lain sebagai temannya. Tidak akan pernah sebuah komunitas bisa berjalan ketika sesama anggota menganggap anggota yang lain hanya sebagai pasar/pembeli saja.

Dan, hampir semua komunitas blogger dunia maya yang saya ikuti sudah berubah bentuk menjadi ajang menebar link saja. Sebuah komunitas zombie yang hidup tetapi jiwanya mati.

Siapa yang harus disalahkan atas "matinya" komunitas ini?

Ya para blogger sendiri.

Pikiran pendek bin cupet binti sempit serta nafsu ingin cepat terkenal dan sukses merekalah yang mematikan komunitas-komunitas ini. Padahal demi hasil yang tidak seberapa.

Sayang memang, tetapi sepertinya nafsu yang tak terbendung bisa menjadi bencana dan berakibat buruk. Begitu juga nafsu ingin segera sukses membuat mereka tidak lagi memperhatikan lingkungan dan apa efek tindakannya bagi orang lain.

Link-link tidak bisa menggantikan peran canda dan tawa natar blogger. Link tidak bisa menghasilkan keakraban. Juga, link tidak bisa menggantikan pengetahuan yang dibagikan secara iklas dari  yang "senior" kepada yang pemula.

Semakin banyak link hanya memastikan tidak ada tempat bagi interaksi yang sehat antar sesama blogger.

Dan, untuk itu para blogger harus menyalahkan diri sendiri karena komunitas blogger memang tempat para blogger saja. Hampir tidak ada masyarakat non blogger yang mau bergabung dengan komunitas blogger.

Hasilnya, tinggal satu komunitas blogger dalam daftar saya, IAPD (Indonesia Adsense Publisher Discussion).

Aturan no link aktif disana bisa menghambat nafsu para nggotanya untuk menebar link aktif.  Meski demikian, tetap terasa ada usaha beberapa member untuk mempromosikan dirinya sendiri disana dengan berbagai cara. Sesuatu yang suatu waktu akan juga bisa mematikan komunitas ini juga.

Entah sampai kapan bisa bertahan. Setidaknya sejauh ini komunitas ini masih lumayan. Tidak bagus. Tidak jelek-jelek amat.

Kalau sudah terlalu "jelek" dan menjadi komunitas mati, maka saya tidak akan ragu melepaskan keanggotaan disana. Untuk apa bergabung di komunitas yang para anggotanya sibuk memasarkan diri saja.

Tidak pernah enak berada di antara orang-orang narsis dan tidak mau memikirkan orang lain.

TREEHUGGER : Blog Tentang Lingkungan Yang Menunjukkan Jumlah Artikel Yang Terbit Berpengaruh Pada Peringkat

TREEHUGGER : Blog Tentang Lingkungan Yang Menunjukkan Jumlah Artikel Yang Terbit Berpengaruh Pada Peringkat

Website (blog) nya sederhana. Tulisannya tidak mengandung SEO. Loadingnya menurut GTMterix termasuk slow dan kalau memakai acuan Pagespeed Insight dan Yslow, masuk kategori buruk dan sangat buruk. Waktunya di atas 4 detik, yang kalau menurut para mbah blogger Indonesia akan membuat pengunjung kabur.

Ini buktinya.


Ditambah topiknya yang kalau di Indonesia termasuk topik tidak menguntungkan, tentang LINGKUNGAN. Nggak keren. Nggak menjual.

Sederhana. Tidak SEO Friendly. Loading lemot. Topik tidak populer.

Berarti tidak akan sukses.

Pasti gagal.

Kata para mastah IAPD (Indonesia Adsense Publisher Discussion) rasanya tidak akan jauh dari seperti itu. Yang punya pasti akan dikuliahi habis-habisan kalau memberi screenshot loading seperti di atas.

Iya kan.

Cuma.. ada cuma. Kalau memang hal itu terpikir di kepala Anda, lihat dulu yang di bawah ini.



Screenshoot dari ALEXA tentang "treehugger.com" ini.

Kecil banget yah?

Yap. Walau tidak sesuai dengan kriteria blog yang "bakal sukses" ala mastah blogger Indonesia, Treehugger adalah salah satu blog tentang lingkungan yang sangat berpengaruh di dunia. Namanya akan selalu disebut sebagai website yang memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Isinya, sesuai namanya yang berarti "Pemeluk Pohon" adalah artikel-artikel terkait dengan lingkungan dan kecintaan kepada alam. Bagaimana manusia harus menyeimbangkan antara pemanfaatan alam dan pelestariannya, politik, teknologi, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan.

Penulisannya jelas sekali lebih menekankan pada isi dan bukan kata kunci. Meskipun demikian bukan berarti pengunjungnya datang dari media sosial saja. Menurut Alexa, 51% dari pembacanya berasal dari Search Engine.

Jumlah pengunjung? Entahlah.. jika mendapat posisi di Alexa seperti itu, biasanya sudah di atas puluhan ribu dan bukan sekedar 1000-2000 visitor saja perhari.

Salah satu hal yang saya duga menjadi kunci sukses si blog ini sebenarnya tidak berbeda dengan blog-blog lainnya seperti Blog Linda Ikeji dan Mashable, yaitu pada jumlah artikel yang terbit. Setiap harinya blog ini menerbitkan antara 5-15 artikel.

Hingga tulisan ini dibuat ada 4298 halaman pada blognya dan setiap halaman ada 20 artikel. Silakan hitung sendiri berapa jumlah artikel yang ada di blog ini. Tulisan pertama diterbitkan tahun 2003.

Treehugger memiliki tim editor (bukan penulis yah) yang berasal dari mancanegara, terutama negara-negara di kawasan Amerika Utara, seperti AS, Canada. Tulisannya sendiri datang dari lebih banyak lagi orang.

Sebuah blog atau website yang jelas bermanfaat dan menginspirasi banyak orang.

Yang pasti membantah semua teori para master blogger Indonesia yang mengatakan tanpa SEO sebuah website/blog tidak akan sukses.

Lebih Baik Beternak Blog Daripada Beternak Akun Adsense


Berapa banyak akun Adsense yang Anda miliki? Saya cuma satu. Tidak lebih dan tidak kurang.

Kenapa saya bertanya? Karena saya bingung dan tidak habis pikir mengapa ada Adsenser yang memiliki lebih dari satu akun.

Tentu saja saya cukup paham bahwa orang ingin "keamanan" dan punya cadangan kalau-kalau terjadi "sesuatu". Dalam hal ini sesuatu itu adalah kalau akun yang ada dibanned atau dihentikan oleh Google, tetapi tetap saja membingungkan mengapa harus memiliki lebih dari satu akun Adsense.

Mengisi satu akun saja - untuk mendapatkan gajian bulanan -  merepotkannya sudah audzubillah sulitnya, apalagi kalau punya lebih dari dari satu.

Sebenarnya tidak beda dengan memiliki istri. Satu istri, selain mendatangkan kebahagiaan yang banyak, juga menghadirkan kerepotan dan butuh perjuangan yang banyak juga.

Penggemar poligami berpikir bahwa kebahagiaan akan menjadi dua kali lipat juga, padahal sebenarnya tidak. Yang hadir adalah masalah dan kerepotan yang dua kali lipat sedangkan kebahagiaannya justru akan berkurang karena waktu yang ada akan habis hanya sekedar untuk berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan mereka.

Gagal memenuhi kebutuhan sang istri (yang manapun), ujungnya bisa berakibat "cerai" dan kebahagiaan bisa melayang

Begitupun dengan beternak akun adsense. Ibarat istri, mereka juga harus dijalankan dan dipenuhi kebutuhannya. Jika mereka tidak aktif, si pemberi akun tentunya tidak akan senang. Mereka akan menonaktifkan akun yang tidak aktif tersebut.

Lalu untuk apa beternak akun adnsense kalau tidak mampu mengurusnya?

Lebih baik satu istri.. eh satu akun adsense saja dengan banyak blog. Toh satu akun Adsense non Hosted bisa dipergunakan untuk banyak sekali blog (bisa ratusan kalau sanggup).

Sama dong? Tidak

Ya beda lah.


Pemilik dua akun adsense, tidak beda dengan yang berpoligami. Kalau sumber pemasukan hanya satu, maka keduanya harus diberi kesempatan yang adil mendapatkan pemasukannya supaya bisa tetap hidup. Ujungnya aliran uang terbelah dan kemungkinan impian mendapatkan penghasilan bulanan dari Adsense akan menjadi lebih lama dari yang seharusnya.

Bayangkan penghasilan satu blog dengan 2000 visitor perhari, misalkan US$ 1.5. Untuk mencapai US$ 100 dibutuhkan 67 hari alias dua bulan lebih. Jika punya dua akun, maka waktu yang dibutuhkan untuk gajian saja menjadi 134 hari untuk setiap akunnya.

Persis kayak kalau punya istri dua.

Itupun masih dengan syarat kalau iklan dari kedua akun bisa dipasang pada blog yang sama. Siapa mau dimadu dan harus tinggal dalam satu "rumah"? Kasus langka kalau ada.

Memiliki banyak akun adsense membutuhkan banyak blog agar bisa menghasilkan uang yang banyak. Sama dengan yang berpoligami, mereka harus menyediakan sumber penghasilan yang banyak juga agar bisa terpenuhi.

Sebaliknya kalau banyak blog dengan satu akun saja, tidak beda dengan yang punya satu istri dengan banyak warung. Meski masing-masing hanya bisa menyumbang tidak besar, tetapi kalau dikumpulkan jelas menjadi banyak.

Misalkan sebuah blog menghasilkan 1 dollar saja, kalau punya blog 5 dengan masing-masing 1 dollar perhari, hasilnya 5 dollar perhari. Gajian US$ 100 per bulan bisa butuh waktu hanya 20 hari saja.

Sesimple itu saja perhitungannya.

Bagaimana kalau nanti akun Adsense yang ada dibanned? Tidak beda kan dengan bagaimana kalau nanti istri yang ada minta cerai?

Setiap perkawinan bukanlah tanpa masalah dan resiko. Langgengnya sebuah perkawinan adalah tentang apa yang dikerjakan setelah menikah, bagaimana merawat, bagaimana mengembangkan.

Tidak bisa dalam perkawinan kita berpikir bahwa "Waduh, kalau istri yang ini mau cerai gimana" Bagusnya saya cari istri cadangan, jadi kalau yang ini cerai sudah ada gantinya?" Tidak demikian kawan.

Itu namanya cari perkara.

Begitupun dengan akun Adsense.

Tetap ada resiko. Tetapi, kalau semua sesuai dengan aturan, maka seharusnya resiko itu diperkecil dan Google serta publisher bisa hidup bahagia bersama.

Selama akun itu dijaga dan dipelihara dengan cara yang benar, rasanya tidak perlu menyediakan backup atau cadangan.

Aturan mainnya sudah jelas.

Tidak perlu khawatir kehilangan akun secara berlebihan.

Tetapi, itu kata saya lo. Yang cuma punya satu istri dan satu akun Adsense. Yang sukanya simple dan tidak suka mumet.

Bagaimana dengan Anda? Berapa akun Adsense yang Anda punya?

Memanfaatkan Grup Whatsapp Sebagai Pengganti Surat Edaran RT Tanpa Menimbulkan Gangguan

Memanfaatk Grup Whatsapp Sebagai Pengganti Surat Edaran RT Tanpa Menimbulkan Gangguan

Surat edaran RT (Rukun Tetangga), sebuah surat yang "mungkin" dianggap remeh dan dianggap tidak penting leh banyak orang. Seringnya tidak dibaca dan bahkan dilirik pun tidak. Tidak jarang menjadi sampah bahkan tanpa isinya tidak dimengerti. Banyak yang tidak menyadari uang kas RT harus keluar, 10 liter air dan entah berapa bagian pohon terbuang karenanya untuk sekedar menyampaikan informasi yang tidak dihargainya.

Grup Whatsapp, "sesuatu di dunia maya" dimana orang banyak menganggap dirinya "terlalu" penting. Sebuah tempat dimana hampir semua orang berpandangan bahwa kata "Aaamin", "Terima kasih" dari dirinya begitu berharga dan ditunggu-tunggu oleh orang lain sehingga membuat mereka tidak menyadari ada biaya yang keluar karenanya dan gangguan yang disebabkannya.

Bagaimana kalau kedua hal itu digabungkan?

Ternyata, hasilnya

1. Uang kas RT bisa dihemat
2. Tidak ada sampah
3. Informasi sampai dengan cepat dan tepat

Dan, tentunya tanpa menimbulkan gangguan bagi orang lain.

Begitulah hasilnya.

Surat Edaran RT itu Mahal dan Tidak Efektif


Kisahnya bermula beberapa bulan yang lalu ketika saya di"paksa" rela harus menjalani tugas sebagai Sekretaris RT di lingkungan. Peran yang sudah paling tidak 3 kali saya tangani sejak tinggal di Cluster Taman Bunga Bukit Cimanggu City, Bogor.

Pekerjaan yang melelahkan sebenarnya mengurusi warga, yang kebanyakan sangat individualistis dan banyak yang merasa uang adalah segalanya.

Sejak awal, saya melihat adanya sebuah kelemahan dalam sistem penyebaran informasi di lingkungan. Semua berlandaskan pada surat edaran, yang diberi nomor dan berbahasa kaku.

Tidak efektif karena untuk membuatnya memerlukan waktu untuk membuat draft, mencetaknya, membuat fotokopinya, dan mengedarkannya. Perjalanan panjang untuk sebuah informasi yang kerap kali diabaikan oleh warga.

Sebuah cara yang mahal juga karena dalam sebulan kas RT harus keluar sebanyak 150-200 ribu hanya untuk membuat salinan sebanyak jumlah warga yang ada. Padahal seperti biasa kas RT itu tidak pernah besar dan selalu kecil.

Sangat tidak efisien dan mahal.

Jadilah, saya harus menemukan satu cara agar informasi tentang apapun dari pengurus bisa sampai ke tangan warga dengan cara yang lebih efektif, efisien dalam segala hal, dan tidak mahal.

Pilihan saya akhirnya jatuh pada Grup Whatsapp

Grup Whatsapp Cepat, Murah, Efektif tetap BISA MENGGANGGU

Mengapa Grup Whatsapp dijadikan pilihan sebagai pengganti ? Jawabannya :

1. Efektif : Di zaman dimana smartphone ada di tangan setiap orang, informasi akan langsung sampai ke sasaran
2. Efisien : tidak perlu mencetak, tidak perlu memfotokopi, tidak perlu mengedarkan. Semua dilakukan cukup langsung dari saya sebagai pengelola kesekretariatan
3. Murah : biayanya bisa diabaikan karena kebanyakan pengguna smartphone sudah menggunakan paket internet dan tidak sedikit yang memasang jaringan internet di rumah

Hampir sempurna sebagai pengganti surat edaran RT.

HAMPIR! Tidak sempurna.

Masalah utama sebuah Grupa Whatsapp adalah manusia-manusia di zaman "now" sudah tidak memiliki kontrol terhadap jempolnya. Komunikasi antara otak dan jempol mereka sepertinya sudah terputus sehingga jempol sering bergerak lebih dahulu bahkan sebelum otak sempat berpikir.

Buktinya, "oneliner" (penggemar "satu baris) tidak menyadari bahwa kata "Terima kasih", "Syukur", "Aaamiin" tidak memberikan nilai tambah apa-apa bagi orang lain. Mereka semangat sekali kalau menuliskan kata-kata itu sebagai respon terhadap sesuatu.

Para oneliner ini tidak menyadari kalau

1. Semakin banyak yang berkomentar seperti ini, informasi yang disampaikan akan tergeser ke atas dan membuat orang lain malas mencarinya

2. Tetap ada biaya, walau sangat kecil untuk setiap kata yang ditulis di Whatsapp (tidak percaya, coba saja kalau kuota internet Anda "nol" dan yang ada hanya internet bertarif normal, perhatikan seberapa cepat saldo pulsa Anda tergerus karenanya). Apalagi kalau ada yang membagikan foto atau image, cepat sekali pengurangan saldo dan kuotanya.

3. Setiap pesan via WA akan menghadirkan notifikasi, baik suara atau yang lain, dan hal itu bisa sangat mengganggu. Banyak orang menggunakan grup WA untuk urusan bisnis dan mereka harus melihat pesan-pesan itu. Mereka berharap bahwa informasi yang masuk adalah informasi yang penting dan bermanfaat. Sayangnya, kata Aaamiin, Terima kasih, dan sejenisnya bukanlah kata-kata yang memberikan informasi banyak

Belum dihitung perdebatan dan pertikaian yang timbul akibat kesalahpahaman dalam sebuah grup WA.

Ini hanya karena jempol yang gatal , yang lahir dari kepala yang tidak berpikir panjang dan keinginan untuk tampil.

Itulah kelemahannya jika dipergunakan sebagai surat edaran RT, yang tentunya tidak "penting" bagi banyak orang.

Lalu..

Saya tetap menjalankan rencana tersebut. Surat edaran RT harus digantikan dengan pesan Whatsapp meski resiko menimbulkan gangguan ada.

Grup Whatsapp Ternyata Bisa Menggantikan Peran Surat Edaran RT Tanpa Menimbulkan Gangguan

Bagaimana hasilnya?

Hasil dari penggunaan Grup Whatsapp sebagai pengganti surat edaran, salah satunya adalah foto di bawah ini.


Kok bisa?

Bisa saja. Balai Warga Taman Bunga, begitu namanya sekarang adalah hasil pemanfaatan Grup WA dalam menggerakkan warga untuk urun serta menyumbang. Total uang yang terkumpul mencapai 24,5 juta rupiah di luar sumbangan berbentuk material bangunan, tenaga, dan berbagai jenis sumbangan lainnya.

Hal itu masih ditambah dengan berbagai kegiatan warga yang dimulai dari grup WA yang terbentuk, seperti kerja bakti rutin setiap bulan, pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak. Semua digerakkan tanpa mengedarkan surat kepada mereka. Semua dilakukan via grup Whatsapp.

Grup WA yang dibuat menunjukkan kalau prediksi mengenai kefektifan, keefisienannya dalam menyampaikan pesan. Bahkan, lebih jauh lagi bisa dipergunakan dalam menumbuhkan kesadaran warga untuk berperan serta dalam pembangunan di lingkungannya.

Bagaimana dengan gangguan akibat terlalu banyaknya chatting?

Minim.

Sangat minim.

Warga yang berjumlah sekitar 60 KK tidak mengeluhkan adanya gangguan disebabkan aktifitas di grup WA Taman Bunga tersebut. Hampir tidak ada warga yang ngobrol ngalor ngidul tidak jelas dan menimbulkan gangguan selama sejak grup tersebut mulai beroperasi.

Bagaimana bisa?

Karena sebelum grup terbentuk, kami membuat peraturan sederhana "BACA SAJA. JANGAN KOMENTAR. JANGAN DIJAWAB. CUKUP BACA SAJA".

Grup tersebut diubah menjadi hanya satu arah. Tidak boleh ada interaksi di dalamnya.

Peraturan ini disosialisasikan kepada seluruh warga beserta penjelasan secara rinci tentang alasan peraturan tersebut. Ternyata hal itu dimengerti dan disadari mayoritas warga yang semua hampir sudah paham tentang betapa menyebalkannya grup WA yang penuh dengan chatting atau obrolan tidak jelas juntrungannya. Mereka justru merasa nyaman dengan peraturan ketat seperti itu.

Hasilnya situasi menjadi terkontrol dan tidak ada yang namanya oneliner.

Tentunya, pada awalnya, tidak demikian. Masih saja ada warga yang jempolnya "gatal" dan berkomentar atau memasukkan emoticon ke dalam grup. Hanya, setelah beberapa kali diingatkan oleh Sekretariat RT, lama kelamaan kebiasaan itu terhenti.

Ternyata, hasilnya maksimal. Grup Whatsapp yang terbentuk bisa menggantikan peran surat edaran RT dengan baik, efektif dan efisien. Sejak grup itu terbentuk sudah tidak ada lagi surat edaran dari pengurus RT yang dikeluarkan. Semua informasi disampaikan via grup saja.

Itulah cerita tentang bagaimana Whatsapp bisa menggantikan peran surat dalam bentuk fisik dalam sebuah organisasi. Serta bagaimana sebuah teknologi modern bisa mengurangi ongkos dan biaya yang harus dikeluarkan, jika dipergunakan dengan benar.

Siapa tahu bisa dimanfaatkan di lingkungan dimana sobat tinggal? Iya nggak?

Mencoba Mengembangkan Maniak Menulis


Setelah merenung dan menjauh dari dunia blogging selama kurang lebih seminggu terakhir, akhirnya saya memutuskan mencoba mengembangkan beberapa blog yang saya kelola. Salah satunya Maniak Menulis.

Blog ini agak terlalu berat membahas tentang blogging saja. Kesannya blog ini tidak berbeda dengan blog-blog lain tentang blogging. Padahal niatnya tidak demikian.

MM, inginnya saya, berisikan banyak hal tentang "menulis (dan tentunya membaca karena tidak terpisahkan)" bukan sekedar tentang ngeblog. Dengan membahas terlalu banyak hal tentang blogging, hasilnya blog ini menjadi terlalu spesifik ke arah ngeblog saja.

Membosankan sebenarnya.

Masalah utamanya memang karena saya adalah blogger, jadi fokusnya terkadang hanya ke satu titik yang paling saya ketahui saja. Jadilah blog MM arahnya agak mengerucut ke wilayah blogging saja.

Barulah setelah membaca ulang semua artikel dan kemudian mereview ulang blog ini, diputuskan untuk menyetirnya kembali ke tujuan semula, yaitu tentang menulis dan bukan tentang blogging.

Beberapa tulisan re-write dan singkat berisi informasi sudah mulai diposting, sebagai penanda kecil adanya perubahan arah dari blog MM.

Meskipun demikian, blogging akan tetap ikut dibahas, karena mau tidak mau ngeblog adalah tentang menulis juga. Hanya porsiny saja yang akan disesuaikan.

Bagaimana nanti kalau tidak ada yang baca?

EGP.

Tidak masalah kalaupun tidak ada yang mau baca. Prinsip itu tidak akan berubah disini. Pembaca datang syukur, tidak juga tidak apa-apa. Walau ternyata, tetap saja ada pengunjung yang mampir kesini.

Saya tidak mau repot memikirkan kemauan pembaca. Hak mereka untuk membaca atau tidak mau membaca. Tidak bisa saya memaksa mereka untuk menyukai blog MM.

Jadi guys and gals, harap dimaklum perubahan yang saya lakukan yah. Itu kalau mau, kalau tidak ya tidak apa-apa.

Kindle : Buku Elektronik Keluaran Amazon

Kindle namanya. Perusahaan dagang raksasa di dunia maya adalah pencetus dari gadget ini yang dikhususkan bagi pembaca buku.

Bentuknya mirip dengan tablet dan penggunanya bisa membaca berbagai buku , majalah, dan koran yang diterbitkn secara elektronik melalui jaringan khusus Kindle Store.

Perangkat kerasnya sendiri dibuat oleh anak perusahan Amazon.com, yaitu Lab 126.

Pertama kali diluncurkn di tahun 2007. Lahir dengan ide dasar sebagai pengganti buku cetak. Dalam jaringan yang dibuatnya, Kindle Store, "menjual" berbagai jenis novel dan buku. Siapa pun yang ingin membaca, mereka harus "membeli" via Kindle Store tidak berbeda dengan membeli buku di toko buku.


Kindle pertama hanya beredar di negara Paman Sam saja. Sejak generasi ke-dua yang  dirilis tahun 2009, Kindle bisa dimiliki oleh mereka yang tinggal di luar Amerika Serikat. Saat ini gadget ini sudah terjual di lebih dari 100 negara.

Pengarangpun sekarang dapat menerbitkan langsung karya mereka dan menjual jaringannya via Kindle. Salah satu nama terkenal yang merilis hasil karyanya via Kindle adalah Stephen King, sang raja kisah horor.