Pemakaian Huruf Besar Pada Judul Artikel [Mungkin] Bisa Membantu Memenangkan Persaingan


Bukan jaminan yah. Ini hanya sebuah hasil pengamatan saja. Bisa jadi benar, bisa jadi tidak. Cuma berdasarkan pengamatan pada salah satu blog, pemakaian huruf besar pada judul artikel bisa membantu "memenangkan persaingan" merebut pembaca.

 Blog yang dipergunakan sebagai sumber data adalah Pojok Menulis (PM) Versi 1 (sudah almarhum karena kena hack) dan Pojok Menulis Versi 2 (dengan memakai URL baru).

Screenshoot di atas adalah hasil dari SERP (Search Engine Result Page) Google halaman 1 dari salah satu artikel blog PM versi 2.

(Page one yah, bukan karena ingin menyombongkan diri, tetapi banyak tulisan dari blog itu yang nangkring disana tanpa gembar-gembor.)

Meski masih baru (karena memakai URL baru) blog PM sudah berhasil menempatkan banyak atrikelnya di page one Google. Mirip sama pendahulunya. Mungkin, karena memakai subdomain dari Lovely Bogor yang sudah kuat Domain Authority-nya, jadi menembus halaman satu SERP Google tidaklah terlalu susah.

Cuma, ternyata, hal itu juga ditunjang satu hal kecil. Hal kecil itu adalah pemakaian huruf besar atau huruf kapital pada judul artikel.

Sebelumnya tulisan-tulisan tersebut masih tercecer di halaman 2-3, tetapi perlahan tetapi pasti merangkak menaiki tangga dan menuju posisi dahulu saat sebelum terkena hack.

Setelah diperhatikan ada satu yang berbeda dari artikel blog PM dibandingkan artikel-artikel sejenis dengan judul hampir mirip sekali. Perbedaan itu terletak pada beberapa kata dari judul yang memakai huruf besar.

Coba tengok screenshoot di atas agar lebih jelas.

Atau yang di bawah ini.


Mengapa berbeda?

Ada sebagian kata dalam judul artikel yang memakai HURUF BESAR. Sebagian, tidak semua.

Sementara hampir semua artikel blog lain hanya memakai huruf kecil saja. Huruf besar hanya di awal judul.

Kecil memang, tetapi hal itu membuat artikel PM menjadi BERBEDA dari yang lain.

Mungkin... sekali lagi mungkin yah, hal itu yang membuat pencari informasi mengklik blog PM. Tidak ada data ya

Terpaksa Hiatus Menulis

Terpaksa. Semua blog di bawah asuhan saya, terpaksa hiatus, alias bobo selama beberapa hari terakhir. Kehidupan di dunia nyata ternyata memaksa tindakan hiatus menulis harus dilakukan.

Pemilihan RW lah? Kerja bakti lah? Harus ke rumah saudara lah?

Ya begitulah akhirnya.

Tidak satu kata pun masuk ke dalam blog, yang manapun. Semuanya tidak terisi bahkan sekedar draft atau ide. Benar-benar kosong... blank, setidaknya sampai 5 hari.

Padahal inginnya, dan biasanya ada setidaknya 1-2 artikel yang dibuat, tetapi apalah daya.

Menyesal?

Tidak lah.

Meskipun memang agak mengganggu konsistensi dan tekad untuk menulsi setiap hari, tetap saja kehidupan di dunia nyata haruslah didahulukan.

Pemilihan RW, kelihatan tidak penting bagi banyak orang, tetapi kalau tidak dipilih, nanti pas kita butuh surat pengantar ke Kelurahan, kalau tidak ada RW-nya, yang ruwet ya kita-kita juga.

Kerja bakti juga begitu. Jangankan untuk mengkoordinirnya, datang saja malas, tetapi kalau tidak dilaksanakan, nanti got dan selokan akan penuh kotoran dan sampah. Jadi, haruslah tetap didahulukan.

Suka tidak suka.


Prioritas utama masih diberikan pada kehidupan di dunia nyata karena tanpa itu, maka kehidupan di dunia maya juga terganggung. Bayangkan saja, betapa menyebalkannya mengetik sambil ditemani dengung nyamuk yang berasal dari selokan yang kotor.

Tidak bakalan enak juga, kalau sedang mengetik ada tamu yang curhat karena pak RW-nya nggak ada terus (lha gimana bisa ada kalau nggak dipilih).

Jadi, walau terpaksa hiatus alias bobo selama beberapa hari, tidaklah ada yang perlu dipusingkan.

Lagipula siapa sih yang bakalan nyari dan nunggu tulisan saya..

Ge er banget yah.

Cobalah Jangan Mengulang Kata Yang Sama Dua Kali Dalam Satu Paragraf


Ingin menjadi seorang penulis yang kreatif? Mudah kok langkah awalnya. Tidak berat-berat amat (paling tidak begitu kelihatannya yah). Cobalah tidak mengulang kata yang sama dua kali dalam satu paragraf.

Sebanyak mungkin.

Maksudnya, usahakan kalau kata-kata yang dirangkai sebanyak mungkin selalu terdiri dari kata-kata yang berbeda, meski bermakna sama.

Itu saja langkah awalnya.

Mudah?

Membaca teorinya mudah. Kenyataannya, sudah tiga tahun ngeblog, hasilnya saya masih lebih parah dari "keledai yang tidak pernah terperosok di lubang yang sama dua kali". Masih saja kerap mengulang dua buah kata yang sama dalam satu paragraf.

Padahal kalau hal itu dikerjakan dengan baik, maka :

1. Resiko pembaca merasa bosan akan berkurang


Siapa sih yang senang membaca hal yang sama berulangkali? Tidak ada. Cenderung menghasilkan rasa bosan, walau kecil. Begitu juga dalam membaca sebuah tulisan.

Apabila kata yang sama diulang terlalu sering, hasilnya "secara tak sadar" tulisan itu akan terasa membosankan. Semakin bervariasi kata yang dipergunakan, semakin kecil resikonya.

2. Perbendaharaan kata bertambah

Perbendaharaan kata itu penting, bagi penulis. Oleh karena itu, maka harus terus dicari, dicari, dan dicari.

Prinsip orang serakah "semakin banyak semakin bagus" berlaku disini.

Hal itu hanya bisa dilakukan ketika seorang penulis mau terus mengasah diri dan menghapal kata-kata secara rutin dan terus menerus.

Dengan mencoba menghindari penggunaan kata yang sama sebanyak dua kali, otak akan terus dipaksa bekerja mencarikan sinonimnya. Otomatis juga, kata-kata itu akan terekam dalam benak kita.

3. Melatih kreatifitas

Menulis adalah tentang menjadi kreatif.


Jadi, penulis dipepet untuk terus mengembangkan kreatifitasnya. Tanpa itu bisa menyebabkan dirinya stagnan dan tidak berkembang, bantat kata kerennya.

Sepertinya, tidak menggunakan dua kata yang sama dalam satu paragraf langkah kecil, tetapi disini penulsi dituntut menjadi kreatif. Setiap kata pasti punya 2-3 bahkan 10 padanan kata.

Contoh kata sinonim. Artinya bisa bermakna padanan kata = kata yang sama = kata yang tidak berbeda = persamaan kata, dan masih banyak lagi yang lain.

Kalau semua itu dipakai, maka tidak akan ditemukan kata sinonim dipakai berulang-ulang dan membuat jenuh yang membaca.

Sederhana sekali kan tipsnya.

Yang menjadi masalah utama adalah rasa malas dan mau gampang. Tidak mau capek.

Kalau ingetnya itu, ya itu terus yang dipakai. Padahal, sebuah kata yang paling sering diulang, secara otomatis ia akan muncul di kepala paling pertama. Jeleknya lagi, kalau sudah begitu kata itu langsung dipakai. Ditambah rasa malas mencari

Yo wis. Lengkap sudah. Kata yang sama akan terus dipakai berulang-ulang karena otak menyuruhnya demikian. Alhasil, jadilah seorang penulis tidak kreatif.

Bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan dan akan memakan waktu lama membiasakan diri mencoba menghilangkan penggunaan kata yang sama dalam satu paragraf. Tiga tahun sudah berlalu, dan menyebalkannya, saya masih kalah dari keledai.

Masih saja ada kata yang sama dalam satu paragraf.

[Bukti] Blogger Sudah Menjadi Profesi (Tetapi Bukan di Indonesia Yah!)

Di Indonesia, blogger memang belum menjadi profesi. Mayoritas penghasilan yang didapat para blogger masih mengandalkan pada pemasukan iklan saja. Jangan berharap bahwa sebuah perusahaan akan mempekerjakan seorang blogger.

Tetapi, tidak demikian di beberapa negara maju. Budaya blogging bukan lagi milik personal, banyak perusahaan yang melihat betapa pentingnya kata "blog" terpampang pada website sebuah perusahaan. Tulisan-tulisan dalam sebuah blog milik perusahaan menjadi sebuah hal yang "penting" dalam banyak bisnis.

Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak perusahaan bisnis pun menyediakan kolom "BLOG" di website mereka.

Hasilnya, kebutuhan akan orang-orang yang mampu menulis ala blogger pun meningkat dan banyak perusahaan di luar negeri mulai mempekerjakan blogger untuk mengisi kolom BLOG mereka.

Salah satu buktinya adalah sebuah screenshoot di atas yang diambil dari salah satu situs lowongan kerja di Amerika Serikat. Disana terlihat adanya lowongan kerja bagi seorang blogger.

Sebuah pertanda bahwa di luar negeri, perkembangan  menunjukkan bahwa suatu saat blogger akan menjadi sebuah profesi yang diakui oleh masyarakat. Belum seratus persen diakui, tetapi hal-hal seperti ini menunjukkan suatu waktu kata "blogger" akan bersanding dengan kata "wartawan", "dokter", sebagai kata yang menunjukkan profesi.

Masih butuh waktu, yang lumayan panjang pastinya.

Apalagi di Indonesia. Dimana blogger masih dianggap sebagai sebuah kegiatan iseng belaka. Sekalipun sudah mulai dijadikan ladang mencari uang, dengan memasang iklan, atau tulisan bersponsor, tetap belum diakui sebagai sebuah profesi.

Entah kapan hal itu bisa terwujud di negara ini. Yang pasti biasanya agak lamban dibandingkan dengan di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris dan lainnya.

Membuat Tulisan Yang "Berbeda" Itu Mudah, Diri Kita Sendiri Lah Yang Membuatnya Menjadi Sulit


Ah... Siapa bilang sulit membuat sebuah tulisan yang "berbeda" dari tulisan-tulisan lainnya yang sudah terbit? Mudah sekali sebenarnya.

Kalau tidak percaya, coba, sekarang carilah apakah ada orang yang sama dengan Anda?

Tidak akan pernah bisa kan? Bahkan sepasang orang kembar identik sekalipun tidak akan pernah sama persis. Pasti akan selalu ada perbedaannya, baik dalam segi fisik, sifat, dan lain sebagainya.

Itu adalah kodrat manusia. Manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lain.

Dan, penulis atau blogger adalah manusia. Oleh karena itu sudah selayaknya akan berbeda satu dengan yang lainnya. Pada dasarnya pasti demikian.

Tidak mungkin seorang yang memiliki gaya yang berbeda, sifat yang berbeda, tinggal di lokasi yang berbeda, sekolah di sekolah yang berbeda, dan segala sesuatu yang berbeda akan menghasilkan sebuah tulisan yang sama.

Pasti berbeda.

Kecuali, mereka melakukan "copy paste" yang sebenanrya tidak termasuk dalam kategori "menulis" tetapi "plagiarism", alias mencontek. Sesuatu yang merupakan hal yang haram dilakukan di dunia tulis menulis.

Nah, itulah mengapa seharusnya menulis artikel yang "berbeda" seharusnya mudah. Karena, semua penulis/blogger adalah berbeda sejak awalnya. Seharusnya mudah. Cukup menjadi diri sendiri dan mengungkapkan apa yang ada di kepala sendiri, maka sebuah tulisan yang berbeda akan lahir.

Masalahnya, keinginan manusia itu tanpa batas.

Sudah diberikan "PERBEDAAN", banyak yang justru ingin menjadi "SAMA".

Seorang yang bukan Syahrini membeli baju yang mirip dengan si Princess agar dia merasakan sedikit menjadi tenar seperti Syahrini. Seorang yang sebenarnya tidak "gableg duit" (tidak punya uang) berhutang agar bisa membeli mobil dan tampil layaknya orang kaya.

Itu dalam dunia di luar dunia tulis menulis. Dalam dunia tulis menulis contohnya banyak sekali, seperti :

1. Seorang yang bukan guru, merasa perlu meniru "guru" agar ia dipandang sebagai orang yang berpengetahuan.
2. Seorang yang tidak hobi fotografi dan menguasai ilmunya, merasa perlu menggunakan "article spinner" dan menjiplak tulisan tentang potret memotret agar blognya terisi tulisan bersifat teknis dan memberi kesan ia seorang fotografer mumpuni.

Semua mencoba memasang topeng demi satu tujuan tertentu. Banyak yang menjauh dari menjadi diri sendiri demi mencapai tujuan tertentu.

Hasilnya, ya karena itulah banyak tulisan di dunia maya, yang meski kata-katanya berbeda, tetapi sebenarnya sama saja. Tulisannya rasanya tidak "berbeda" karena kebanyakan blogger atau penulis memaksakan diri untuk keluar dari dirinya sendiri dan lebih suka menjadi orang lain.

Pada akhirnya, jika terus hal ini dilakukan, maka kesulitan untuk menulis sesuatu yang "BERBEDA" akan datang. Bisa membuat mentok pikiran seorang blogger atau penulis.

Kebiasaan menjadi orang lain akan melahirkan sebuah kebiasaan baru dimana seseorang tidak akan bisa berpikir sendiri, tidak akan bisa menuangkan dalam gayanya sendiri, dan pada akhirnya tidak akan bisa menjadi dirinya sendiri. 

Jika sudah sampai di titik ini, maka membuat tulisan yang berbeda akan menjadi sebuah hal yang berat sekali dan kadang memaksa untuk menyerah. Karena pada titik ini, mereka sudah terlalu jauh dari dirinya sendiri dan mereka menjadi orang yang "SAMA" dengan banyak orang lainnya.

Tidak akan keluar tulisan "berbeda" dari dirinya karena kebanyakan sudah lupa siapa dirinya sebenarnya.

Jadilah Diri Sendiri : Menjadi Orang Lain Itu Tidak "COOL" dan Tidak Menyenangkan [Pastinya]

Jadilah Diri Sendiri dan Jangan Jadi Orang Lain

Pernah mencoba memakai sepatu orang lain? Enak kah? Nyaman kah?

Terus terang kalau tidak terpaksa, saya tidak akan melakukannya. Kecuali, ya kecuali, saya akan masuk ke selokan saat kerja bakti, dan hanya sepatu boot tukang taman yang tersedia. Barulah saya mau memakai sepatu orang lain.

Tidak nyaman, tetapi lebih aman dibandingkan masuk ke got tanpa sepatu.

Kalau tidak ada kondisi seperti itu, ogah lah saya memakai sepatu milik orang lain, bahkan sepatu milik istri sendiri juga saya tidak akan mau memakainya. Saya yakin Anda juga tidak akan mau melakukannya.

Betul kan?

Perlu dijelaskan alasannya? Tidak kan?

Begitupun dalam menulis.

Pernah coba menulis tentang sesuatu yang tidak Anda kuasai dan mencoba memakai gaya dimana hati kita tidak sesuai?

Saya pernah.

Rasanya ampun sekali. Tidak nyaman sama sekali. Baru beberapa kalimat saja, ide sudah mentok dan seberapapun usaha yang dilakukan, rasa malas muncul. Buntu.

Pernah juga berhasil menyelesaikan beberapa tulisan dengan gaya tiruan seperti yang disarankan oleh seorang blogger master.

Hasilnya? Geleng-geleng kepala saya. Terlihat sekali aliran tulisan benar-benar tidak nyambung antar  kalimat. Masing-masing paragraf seperti berdiri sendiri dan tidak saling berkolaborasi membentuk tulisan. Ide ngawur kemana-mana karena berusaha menyesuaikan diri dengan apa yang disarankan orang lain.


Tidak nyaman sama sekali dan hasilnya sama sekali tidak bagus. Saya penulisnya saja malas membaca ulang, apalagi para pembaca.

Lalu untuk apa menulis kalau bahkan membuat senang diri sendiri saja tidak bisa.

Kapok lah. Tidak lagi-lagi saya mencoba memakai "sepatu orang lain". Lebih enak memakai sepatu sendiri, seberapapun murahnya.

Itulah, mengapa kalau rekan blogger bertanya apa hal paling penting dan paling sulit dalam ngeblog, maka jawaban saya adalah "MENJADI DIRI SENDIRI!"

Godaan terlalu banyak di luar. Ketenaran dari para penulis atau blogger yang sudah lebih dahulu berhasil akan selalu berusaha menarik kita untuk meniru dan membebek.

Keinginan cepat sukses akan mendorong kita memakai cara yang sudah ada daripada berusaha melalui jalan kita sendiri. Kalimat "kalau orang lain bisa sukses dengan gaya itu kenapa saya tidak" akan terus terngiang.

Yang seperti ini akan terus mengganggu.

Padahal, ketika kita menjadi pembebek seperti itu, yang ada kita akan semakin sulit menemukan diri sendiri dan malah menjadi tiruan dari "orang lain" versi KW. Dan, versi KW tidak akan bisa menyaingi versi aslinya.

Syahrini menjadi terkenal dengan gaya centil, sok pintar dan sok kaya (entah darimana dapat uangnya). Tapi, cobalah meniru gaya yang dia pakai, apakah Anda akan terkenal seperti si Princess itu? Tidak akan. Anda hanya akan menjadi badut saja.

Syahrini tetap Syahrini. Versi KW-nya tidak akan bisa menyainginya. Orang tidak akan melihat Anda sebagai Syahrini seberapapun usaha Anda meniru gayanya. Anda hanya akan menjadi bayangan.

Dalam menulis pun demikian, seorang peniru, baik isi tulisan, atau gaya menulis, tidak akan pernah bisa melebihi penulis yang ditiru. Tidak akan pernah. Peniru akan tetap menjadi peniru selamanya. Seberapapun usahanya, tidak akan pernah bisa mengalahkan aslinya.

Itulah mengapa saya menolak memakai gaya guru, karena kenyataannya saya bukan guru, meski pernah menjadi seorang guru, tetapi saat ini saya adalah seorang marketer, bukan guru. Seberapapun saya coba meniru, saya akan tetap bukan guru.

Begitu juga dengan keputusan saya mengabaikan saran para blogger "profesional" agar bertindak "profesional" dalam menulis. Pikir saya, bagaimana bisa menjadi profesional, kalau ngeblog sendiri belum menjadi profesi saya sehari-hari. Saya cuma menjadi orang yang "berlagak" profesional.

No. Saya sudah pernah merasakan mencoba menjadi orang lain dan rasanya sangat tidak nyaman. Gaya saya juga menjadi tidak cool sama sekali. Lebih mirip badut (maaf bukan merendahkan profesi badut yah).

Tidak lagi saya akan mencoba memakai "sepatu" orang lain dalam kehidupan saya. Lebih nyaman memakai sepatu sendiri. Seberapapun orang lain mengatakannya tidak keren, tetapi saya merasa nyaman dan sepatu tersebut berfungsi dengan baik.

Begitu pun blog-blog yang saya kelola. Tidak akan lagi mereka diisi dengan tulisan hasil coba-coba meniru teori dan gaya blogger lain. Cukup sudah. Kasihan pembaca disuguhi tulisan yang hanya merupakan tiruan tulisan orang lain padahal mereka datang kesini untuk membaca sesuatu yang "khas" dari Maniak Menulis.

Tidak akan pernah lagi.

Menjadi diri sendiri itu lebih baik dan nyaman, bahkan dalam hal menulis.

Ewuh Pakewuh #2 : Bisa Membuat Menulis Artikel Review Menjadi Tugas Super Sulit


Terus terang! Menulis artikel review itu sebuah tugas yang sulit sekali. Banyak yang mengatakan mudah tetapi sebenarnya jauh dari itu.

Sebuah penulisan artikel review harus dilandasi oleh pemahaman yang baik tentang "apa yang direview", misalkan review tentang smartphone, maka si penulis harus menguasai berbagai hal terkait benda itu. Ia harus bisa menjelaskan secara rinci baik dari segi teknis, segi penggunaan, segi harga, dan lain sebagainya.

Sebuah hal yang tidak sederhana, tetapi bukan masalah itu yang membuatnya menjadi sulit. Berbagai hal terkait teknis bisa dipelajari, bahkan dalam waktu yang tidak lama.

Ada satu hal lain yang justru menjadi penentu apakah sebuah artikel review pantas dibaca dan dipercaya atau tidak. Penentu ini justru tidak terkait pada masalah teknis dan rincian terkait produk.

Hal yang menentukan ini ada pada kata "BERIMBANG". Sebuah review pada dasarnya adalah sebuah titik "ekuilibrium" atau keseimbangan dari dua belah pihak yang terkait pada "benda atau apapun" yang direview.

Dua belah pihak yang dimaksud adalah "produsen" dan "pembeli".

Contohnya, sebuah produk berbentuk kosmetik. Sang penulis artikel review harus mempertimbangkan "kepentingan" dari sang produsen untuk menghasilkan penjualan dan profit. Sebaliknya, ia pun tidak boleh melupakan "hak" konsumen untuk mendapatkan "keuntungan" dari produk yang dibelinya.

Tidak bisa seorang penulis artikel review hanya sekedar menulis produknya "jelek" dan tidak sesuai harga karena hal itu  bisa berujung pada gugatan hukum dari sang produsen. Begitupun sebaliknya, ketika ia terlalu condong dan melebih-lebihkan keunggulan sebuah produk, karena artinya ia terlalu berpihak kepada produsen.

Susah. Semua harus berimbang.

Oleh karena itu, sebaiknya seorang penulis artikel review harus

1. Berada pada posisi yang tidak "dekat" dengan produsen
2. Bukan juga merupakan pengguna fanatik dari apa yang direview

Dengan begitu maka penilaiannya tidak akan bias.

Kalau ia terlalu dekat dengan produsennya, ia akan merasa "ewuh pakewuh" dan tidak enak hati ketika membuat ulasan. Begitu juga jika terlalu dekat dengan kalangan pembeli.

Tidak boleh ada kedekatan itu karena rasa sungkan seperti itu hanya akan membuat ulasan menjadi berpihak pada satu sisi, sesuatu yang tidak boleh terjadi. Ketika rasa ewuh pakewuh itu hadir, hampir pasti hasil reviewnya tidak akan berimbang dan pantas dipercaya.

Repot.

Super sulit jadinya.


Karena itulah saya kurang paham mengapa banyak blogger gemar membuat tulisan yang bersifat review terhadap sebuah produk. Buat saya pribadi, itu adalah sebuah hal yang teramat sangat sulit.

Bagaimana bisa mengulas sebuah benda tanpa menyudutkan produsen? Bagaimana bisa mengatakan sebuah kelebihan tanpa memberi kesan sedang promosi?

Ampun.


Mungkin karena saya masih orang Timur dan meski sudah cukup terbiasa berbicara blak-blakan tetap saja ada gen "kebiasaan" ewuh pakewuh dalam diri sendiri.

Butuh waktu untuk membiasakan diri membuang rasa sungkan itu. Butuh waktu pula untuk menjadi terbiasa menerima konsekuensi dari penilaian kita terhadap sesuatu.

Dan , saya banyak belajar saat menulis di Lovely Bogor, blog tentang Kota Hujan yang saya kelola.

Disana ada berbagai macam hal yang kerap mirip dengan sebuah review, seperti cerita saat kuliner di sebuah tempat ataupun saat berwisata di sebuah tujuan wisata. Semuanya mirip dengan ulasan atau review itu tadi.

Disana saya belajar untuk

1. Mengatakan "apa adanya" : 


Terlepas dari keinginan saya mempromosikan Kota Bogor kepada khalayak, saya berkesimpulan bahwa hal itu harus dilakukan secara jujur. Jelek ya bilang jelek. Bagus ya bilang bagus.Tidak boleh ada istilah sesuatu yang jelek harus dibilang bagus.

Oleh karena itulah, pada banyak tulisan seperti tempat wisata atau kuliner, saya berusaha selalu memperlihatkan sisi "kelemahan"nya juga agar para wisatawan yang mempergunakan tulisan itu sebagai patokan, setidaknya mendapatkan data dan fakta yang benar-benar ada dan bukan dibuat-buat.

2. Menyatakan sebagai pandangan pribadi

Yah, bagaimanapun saya adalah manusia yang punya opini dan pendapat. Jadi, tentu saja boleh memberikan pandangan.

Dan, itu akan saya katakan kepada pembaca bahwa apa yang ditulis bersifat opini, dan jangan sampai dianggap sebagai kebenaran.

Tujuannya adalah mereka percaya atau tidak, itu adalah hak mereka. Saya mengundang mereka untuk juga berpikir sebelum memutuskan.

3. Tidak melebih-lebihkan dan tidak memakai judul yang bombastis

Banyak sekali blogger menulis artikel tentang Bogor dengan judul yang sangat bombastis, seperti menakjubkan, luar biasa, dan sejenisnya. Semua demi mendapatkan pembaca.

Saya menghindari hal seperti itu.

Pemberian judul yang bombastis sebenarnya sudah "menipu" pembaca sejak awal. Judul-judul seperti ini mempermainkan sisi psikologis pembaca untuk condong mengikuti apa yang dikatakan penulis.

Sebisa mungkin, judul dibuat sederhana, netral, tetapi harus tetap menarik. Yang pasti tidak menipu dan bombastis.

Standar saja.

4. Tidak menulis sesuatu yang terlalu jelek

Banyak kuliner di Bogor yang sebenarnya menurut saya tidak enak. Tidak sesuai dengan promosinya dan membuat saya kecewa.

Tempat kuliner yang saya kunjungi lebih banyak daripada artikel kuliner yang diterbitkan di Lovely Bogor. Jumlahnya bisa 2 kali lipat.

Hanya karena sebagian mengecewakan, saya memutuskan untuk tidak menulisnya.

Alasannya karena ketika saya kecewa terhadap sesuatu, maka penilaian saya rasanya tidak lagi berimbang (walau bagi sebagian orang itu fakta, katanya) . Kecewa adalah kata yang cenderung ke arah buruk.

Jadi, berbahaya sekali kalau menulis artikel review dalam kondisi diri sendiri yang sebenarnya sedang tidak seimbang dalam hal ini. Bisa-bisa hasilnya membuat usaha bisnis orang lain tidak berjalan.

Semakin besar Lovely Bogor dan semakin banyak pengunjungnya, semakin berhati-hati saya karena efeknya bisa mempengaruhi ribuan orang pembaca disana.

5. Mengemas sebuah "kelemahan" dan "kelebihan" dalam bahasa yang tidak terlalu terbuka

"Makanan ini "XXXX" super enak". Itu biasanya banyak ditemukan di ulasan para blogger. Saya menghindarinya karena kesannya justru berlebihan dan seperti sedang mempromosikan sesuatu.

Biasanya saya mengemasnya dalam kalimat "Mungkin karena saya memang penggemar makanan Sunda, rasa makanan XXXX cocok di lidah saya"

Intinya sama, tetapi kesannya berbeda.

Begitupun sebaliknya. Ketika "kelemahan" dari sesuatu ditemukan, hal pertama yang saya harus lakukan adalah menemukan cara mengemas, atau kalimat yang nadanya tidak terlalu "vulgar" dan blak-blakan.

Ruwet ya.

Memang.

Super sulit bahkan.

Hal itulah yang menjadi alasan saya memutuskan untuk tidak menghadiri berbagai undangan dari vendor/produsen.

Sejak mengelola Lovely Bogor, sudah cukup sering saya menerima undangan dari beberapa vendor untuk menghadiri sebuah acara, seperti contoh pembukaan outlet Harvest Cake di Tajur Bogor atau cabang Johnny Andrean di Cileungsi.

Sudah pasti harapan pengundang adalah saya, si blogger mau menulis review tentang produknya, setidaknya tentang acara yang mereka adakan. Tulisan saya akan menjadi promosi bagi produk yang akan mereka jual. Dan, saya sebagai blogger akan merasa "terikat" dengan hal itu karena sudah diundang (dan biasanya mendapat "fasilitas" seperti menikmati sesuatu secara gratis)

Sulit membuat tulisan yang berimbang dalam posisi demikian.

Pemecahan yang saya ambil adalah meminta mereka mengirimkan "press release" versi mereka saja dan kemudian menerbitkannya di Lovely Bogor. Dengan begitu, saya "membantu" usaha promosi mereka, di lain sisi, pembaca akan tahu bahwa tulisan tersebut dibuat bukan oleh sang blogger.

Bahkan, kalau saya diminta menulis artikel review dengan bayaran pun, saya akan menolak. Rasanya tidak mungkin berimbang hasilnya karena beban dari uang yang diterima akan sangat mempengaruhi penilaian.

Rasanya memang budaya ewuh pakewuh masih tersisa dalam kadar cukup banyak dalam diri.

Tetapi, saat ini ada satu proyek yang sedang saya kerjakan terkait artikel review. Ada satu jenis review, selain yang ditulis di blog Lovely Bogor yang akan saya lakukan dan akan dilakukan disini di Maniak Menulis.

Yang saya review adalah blog atau website.

Hal itu sudah dimulai dengan sebuah tulisan berjudul ASIKPEDIA : JUJUR DAN POLOS ITU ASIK DIBACA.

Tujuannya tidak muluk-muluk, sekedar memberikan tantangan kepada diri sendiri. Mampukah menulis sesuatu yang berimbang?  Sejauh mana pencapaian saya dalam menghasilkan tulisan yang tidak memihak.

Ujian pertama sebenarnya cukup berat.

ASIKPEDIA dikelola oleh Kang Nata, seorang blogger yang saya kenal dan sudah berinteraksi cukup akrab. Beranikah saya mengatakan apa adanya tentang kelemahan dari blog tersebut? Beranikah saya mengatakan fakta bahwa blog itu sebenarnya tidak memiliki sesuatu yang "luar biasa"? Beranikah saya menyampaikan fakta bahwa saya menyukai sebuah blog yang biasa saja?

Disana juga ada sebuah ujian, mampukah saya menyampaikan sesuatu yang mendorong ke arah perbaikan?

Entah, apakah tulisan tersebut sudah sesuai dengan apa yang saya mau dan sudah sesuai dengan target. Bukan hak saya menilai. Silakan beri penilaian Anda tentang hal itu, jika berkenan.

Tetapi, setidaknya disana saya akan menuliskan apa yang ada di kepala saya, APA ADANYA.

Harapannya, mungkin, suatu waktu, entah kapan, saya bisa menyingkirkan rasa ewuh pakewuh yang masih bercokol di hati. Dengan begitu, kemampuan saya menulis artikel review bisa semakin baik.

Siapa tahu, suatu waktu disana ada ladang rezeki untuk saya.

Segala sesuatu harus dicoba. Termasuk dalam hal menghilangkan sikap ewuh pakewuh tadi.

Bukan begitu?

Ewuh Pakewuh : Membuat Kolom Komentar Tidak Bervariasi


Ewuh pakewuh, satu istilah dari budaya Jawa. Maknanya secara singkat  sama dengan kata "sungkan" atau "kagok".

Bukan hanya dalam budaya Jawa saja, sebenarnya, sikap ini ditemukan. Banyak masyarakat lain di Indonesia juga menggunakan sikap ini dalam berinteraksi dan bertindak di keseharian.Oleh karena itu, istilah ini pun bisa dimengerti dengan baik bahkan oleh mereka yang bukan berasal dari suku Jawa.

Sikap ini pun ternyata juga tercermin dalam dunia tulis menulis, di Indonesia. Blogosphere di negeri ini pun tidak terlepas dari sikap ini.

Jarang sekali ditemukan penulis, blogger Indonesia yang berani mengungkapkan pemikirannya secara bebas, gamblang, dan tegas menentang pemikiran umum. Kebanyakan dari mereka lebih suka bermain aman agar tidak ada orang yang merasa tersinggung dan membuat situasi menjadi canggung, kagok.

Coba saja perhatikan kolom komentar di blog para blogger terkemuka -setidaknya yang dianggap master atau pakar. Pernahkah Anda melihat ada nada-nada menentang, berbeda pandang, atau mengoreksi? Kebanyakan tidak ada.  Berdasarkan pengalaman, isi kolom komentar adalah pujian betapa luar biasa menginspirasinya tulisan tersebut dan sejenisnya.

Apakah hal itu pertanda bahwa semua pembaca artikel setuju? Tidak juga. Banyak yang sebenarnya, tidak setuju tetapi memilih tetap diam dan tidak berkomentar.

Berbeda dengan banyak sekali blog karya blogger luar negeri dimana sebuah tulisan sering menjadi sebuah "forum" kecil perdebatan. Banyak pembaca yang akan mengkritik, bahkan terkadang sangat pedas isi komentarnya. Blak-blakan sekali.

Mereka terbuka untuk perbedaan pendapat. Panjang komentarnya ada yang mencapai ratusan dan isinya beragam pendapat. Membaca komentarnya saja memberikan keasyikan sendiri tidak beda dengan membaca artikelnya.

Perbedaan ini salah satunya disebabkan oleh adanya budaya ewuh pakewuh tadi. Yang setuju memuji setinggi-tingginya, yang tidak setuju memilih diam. Mereka merasa sungkan untuk secara lugas menunjukkan ketidaksetujuannya di kolom komentar.

Apalagi sebuah blog dipandang sebagai sebuah "rumah tetangga". Tentunya menurut etika dan budaya Timur, tidaklah sopan secara terang-terangan menentang dan mengemukakan pendapat yang berseberangan dengan tuan rumahnya.

Bahkan, ketika pembaca itu sebenarnya lebih tahu daripada sang tuan rumah, ia cenderung memilih diam dan ngeloyor pergi saja. Melakukan koreksi bisa dipandang sebagai usaha mempermalukan tuan rumah, si blogger itu sendiri.

Padahal belum tentu sang blogger, penulis artikel tersebut merasa demikian, tetapi karakter budaya Timur, seperti di Indonesia memang membiasakan masyarakat untuk bertindak demikian.

Sayangnya hal itu terbawa ke dunia maya, yang sebenarnya seharusnya terlepas dari budaya ewuh pakewuh seperti itu. Internet adalah dunia lintas batas dan seharusnya lebih demokratis dibandingkan di dunia nyata.

Berbeda pandangan adalah sebuah hal yang seharusnya dianggap biasa. Hal tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai sebuah usaha "merendahkan" atau tidak menghormati. Justru, dengan adanya perbedaan pendapat seperti itu semua bisa mengambil manfaat.

Si blogger penulis artikel mendapatkan masukan dan pengetahuan baru yang akan memperkaya dirinya. Ia juga akan didorong melihat sudut pandang lain yang berbeda. Sebaliknya, si "penentang" bisa mendapatkan penjelasan dan argumen lebih jelas dari sang penulis.

Semua menjadi "kaya".

Sayangnya, hal itu tidak akan didapatkan dari sebuah blog yang kolom komentarnya hanya berisi "Sangat menginspirasi, gan", "Ini yang saya cari selama ini", "Mantabs sekali bro", dan sejenisnya. Komentar-komentar seperti ini tidaklah memberikan manfaat apa-apa selain membesarkan ego sang penulis.

Sudah saatnya budaya ewuh pakewuh di dunia tulis menulis, atau blogging Indonesia dihilangkan. Sangat tidak bermanfaat sekali.

Lebih baik diganti dengan "berbeda adalah penghormatan" karena dengan begitu kolom komentar blog-blog Indonesia lebih hidup dan bervariasi. Tidak monoton dan bisa lebih memperkaya semua yang membacanya.

Itulah pandangan saya, seorang blogger bengal yang gemar menulis komentar berseberangan dari penulisnya.

ASIKPEDIA : Jujur dan Polos itu Asyik Dibaca


Kata-katanya banyak yang salah dan tidak sesuai EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD) . Masak "foto" ditulis "fhoto". Lalu, Lovely Bogor ditulis kebanyakan "L"-nya jadi "Lovelly Bogor".

Kalau ikut teori para mastah blogging, blog ini tidak akan saya baca. Lha ya banyak ejaan yang salah. Belum lagi ditambah penggunaan "titik", "koma", dan tanda baca lainnya yang bisa membuat arwah Yoes Badudu-sang penggiat pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar- bangkit dari tidurnya.

Ngamuk-ngamuk dia pasti.

Cuma, kenyataannya, Asikpedia adalah salah satu blog yang rutin saya datangi. Hampir setiap hari. Bisa dikata blog ini yang paling sering saya datangi setelah Detik.com.

Sering sebal juga kalau melihat tidak ada tulisan baru. Pengen bilang sama yang punya blog, malas banget sih ngupdate blognya.

Tapi ya itulah kenyataannya. Asikpedia kerap menjadi salah satu bacaan rutin dalam kereta saat berangkat ke kantor atau pulang kerja.

Tiap hari.

Pertamanya heran karena blog itu tidak berisi banyak informasi, dan juga bukan blog tutorial, atau traveling. Blog itu "biasa" saja dan jauh dari kesan profesional. Tetapi, herannya ya itu, kok yah saya mau rutin main kesana untuk membuka paling tidak 3-4 halaman.

Setelah beberapa lama, barulah saya mengerti mengapa blog tersebut menjadi begitu menarik perhatian saya.

Ternyata sederhana sekali alasannya.

Penulisnya JUJUR. Ia tidak berusaha dan berlagak menjadi orang lain yang serba pintar dan serba tahu. Jauh dari kesan ingin tampil ala blogger profesional seperti yang disarankan para pakar dunia blogging.

APA ADANYA. POLOS.

Itu saja.

Dan, "itu saja" itu adalah yang membuatnya menjadi berbeda dan menonjol di mata saya.

Di tengah dunia blog Indonesia yang semakin mengarah pada gaya internet marketing, dan kebiasaan melakukan yang namanya "personal branding" (kalau nggak ngerti kata ini, pasti ngerti PENCITRAAN kan?), sebuah kejujuran dan kepolosan menjadi sebuah barang yang langka. Sesuatu yang justru menjadikannya menonjol di mata saya.

Cerita-cerita kecil dan sederhana, tanpa dibuat-buat, dan ditulis dengan gaya kadang "seenak udelnya" itu membuatnya "BERBEDA".

Dimana coba ada cerita soal menyadap karet? Dimana coba menemukan cerita soal berjualan kacang dengan untung yang kecil dan GAGAL pula? Jualan pulsa diutangin? Kebanyakan blogger dan internet marketer jarang menulis kegagalan mereka dan akan mengajukan cerita sukses saja. Di Asikpedia, kegagalan itu diceritakan.

Lucu.

Tetapi, itulah yang membuatnya menempati posisi spesial (bagi saya lo). Meski, terus terang kadang membacanya membuat kening berkerut dan harus mengulang 2 kali membaca untuk satu baris karena pemakaian tanda baca yang wadduhhh... (Bisa terbayang lah sewotnya sang JS Badudu kalau punya murid kayak si empunya blog itu).

Bagi saya, baik dalam kehidupan sebagai blogger atau warga di dunia nyata, usaha-usaha untuk tampil "WAH" baik dalam segi akademis atau materi adalah sesuatu yang konyol. Tampil apa adanya lebih baik daripada memakai topeng kepura-puraan.

Mungkin itulah mengapa Asikpedia menjadi salah satu blog terpilih yang bisa mengisi waktu saya.

POLOS dan APA ADANYA.

Lagipula, disana tidak berarti tak ada informasi dan pengetahuan. Saya bisa melihat secuplik kehidupan seorang kawan di belahan Selatan Pulau Sumatera. Sekelumit adat budaya di tanah Sumatera. Bisa merasakan sekelumit pemikiran dari seseorang yang bahkan tidak pernah saya lihat wajahnya.

Yang pasti, disana saya bisa belajar tentang bagaimana membuang topeng kepura-puraan dan menjadi apa adanya.

Itulah mengapa buat saya Asikpedia itu asyik dibaca.

Takut Membuat Niche Blog Karena Takut Kehabisan Ide Berarti Anda Malas

Takut Membuat Niche Blog Karena Takut Kehabisan Ide Berarti Anda Malas

Salah satu alasan mengapa banyak sekali blogger Indonesia menyukai blog gado-gado daripada niche blog adalah karena mereka tidak takut akan kehabisan ide. Banyak dari mereka yang khawatir kalau membuat niche blog mereka akan kehabisan ide karena ruang geraknya lebih sempit dibandingkan blog gado-gado.

Dan, lucunya, hal seperti inipun banyak ditulis oleh para blogger tutorial tentang ngeblog yang menyebutkan salah satu kelemahan dari niche blog adalah bloggernya akan cepat kehabisan ide.

Maaf. TIDAK SETUJU.

Pandangan seperti itu adalah pandangan yang sempit dari orang yang malas dan tidak kreatif.

Tidak benar. Sama sekali tidak benar. Pandangan seperti ini seperti mitos yang tidak berdasar dan lahir dari pemahaman yang sangat keliru tentang kata "niche". Kata ini diartikan terlalu sempit.

Niche Blog Memang Bertema Lebih Sempit Tetapi Tidak Sempit Sama Sekali!

Niche adalah kosa kata dalam bahasa Inggris. Artinya "ceruk", "cekungan".

Dalam dunia bisnis, niche sering dikaitkan dengan niche market, yaitu sebuah pasar yang sifatnya spesifik dan tertentu.

Sebagai contoh :

1. Pasar luas (umum) : pembeli bahan masakan
2. Pasar lebih sempit : pembeli bahan kue (karena kue harus dimasak)
3. Ceruk pasar khusus : pembeli bahan kue bole (lebih sempit dari bahan kue)

Nah, yang dimaksud dari niche itu adalah yang nomor 3. Disana spesifik sekali pasarnya, yaitu mereka-mereka yang membeli bahan kue bolu saja.

Terlihat memang sempit sekali, kalau dibandingkan kata bahan masakan yang bisa mencakup berbagai macam hal. Betul kan?

Tetapi, sebenarnya tidak sempit sama sekali. coba saja seperti ini

  • Bahan kue bolu : ada telur, ada terigu, ada baking powder, ada kismis, mentega dan lain sebagainya. 
  • Uraikan kata telur : dari jenis telur bebek, telur ayam, telur puyuh, dari cara pengolahan untuk menjadi bolu, dikocok dengan mixer, diaduk dengan tangan
  • Uraikan kata mentega : ada margarin, ada mentega hewani, ada yang kalengan, ada yang sachetan
Bisakah Anda melihat bahwa kata niche yang memberi kesan sempit sebenarnya sama sekali tidak sempit. Kata bahan bolu yang terlihat sempit kalau diuraikan menjadi banyak hal kecil lainnya.

Niche sering diartikan sebagai sesuatu yang sempit karena kata "ceruk" sebenarnya adalah lubang kecil. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Niche lebih mengarah kepada makna spesifik atau tertentu dibandingkan sempit secara harfiah, kalau dalam konteks seperti ini.

Dalam urusan blog atau menulis, mengambil sebuah niche tertentu adalah suatu hal yang umum. Blogger-blogger di luar negeri justru lebih suka mengelola niche blog yang temanya tidak terlalu luas, dan mereka tidak pernah kehabisan ide.

Tidak percaya.

Pernah baca Harry Potter? Temanya sangat sederhana sekali hanya perjalanan kehidupan seorang anak penyihir kecil. Lebih kecil dari ceruk malah, tetapi lahir lebih dari 7 karya yang mengharu biru jutaan orang.

Masih tidak percaya, blog Eric Kim hanya berceloteh tentang fotografi jalanan, atau fotografi khusus memotret manusia di ruang publik saja. Dan, blog itu melahirkan ratusan tulisan terkait genre fotografi itu dan sepertinya tidak habis-habisnya tulisan keluar.

Mengapa Yang Mengelola Niche Blog Bisa Kehabisan Ide?

Tetapi, kenyataannya, banyak blogger Indonesia tidak mau mengelola niche blog dan alasannya karena takut kehabisan ide. Banyak mastah, atau yang mengaku mastah mengamini bahwa kelemahan mengelola niche blog akan rentan kehabisan ide.

Yah, kalau saya hanya bisa mengatakan bahwa yang mengatakan hal seperti itu biasanya karena :

1. Mereka tidak memiliki pengetahuan dalam niche tersebut

Masalah paling umum. Mereka memaksakan menerjuni niche yang tidak mereka mengerti dan kuasai. Dorongan untuk mendapatkan BPK (Biaya per Klik) yang besar adalah penyebab utamanya.

Mereka memaksakan diri untuk menulis sesuatu yang mereka tidak mengerti dan tidak memiliki pengetahuan tentangnya.

Dan, jelas saja mereka akan cepat kehabisan ide. Lha ya wong pengetahuannya minim, tapi memaksakan diri.

2. Tidak memiliki passion di niche tersebut

Minim pengetahuan bisa dipecahkan kalau seseorang memiliki gairah/passion dalam bidang itu. Banyak orang yang walau tidak tahu tetapi karena merasa berminat sekali akan "mencari tahu", belajar. Dengan begitu pengetahuan mereka akan bertambah dan bertambah terus karena mereka akan konsisten dalam belajar.

Tetapi, kalau tidak ada passion-nya, ya susah. Sudah minim pengetahuan dalam asuransi, sebenarnya juga tidak tertarik, cuma karena hasil Google Keyword planner mengatakan asuransi akan menghasilkan klik bernilai tinggi, lalu bagaimana tidak kehabisan ide.

3. Malas dan Tidak Kreatif

Coba buatkan ide menulis berdasar kata  "telur". Bisa berapa banyak ide di kepala Anda? Saya untuk tulisan ini bisa memberikan ide tulisan 10 (sebenarnya bisa ratusan, cuma kepanjangan nantinya)

  1. Bagaimana membedakan telur ayam yang baik dan yang busuk?
  2. Apa perbedaan telur ayam dan telur bebek?
  3. Bagaimana mengolah telur bebek agar tidak terasa amis saat di makan
  4. Cara mengawetkan telur ayam agar tahan lama dan tidak menjadi busuk
  5. Cara membuat rendang telur yang enak dan lezat
  6. Bahaya telur yang tidak dimasak dengan matang bagi pencernaan
  7. Memanfaatkan kulit telur untuk ornamen rumah
  8. Bagaimana memanfaatkan kulit telur untuk menyuburkan tanaman
  9. Bagaimana mendapatkan keuntungan dari penjualan telur hasil ternak rumahan
  10. Mana yang lebih dulu telur atau ayam
 Ada sepuluh kan?

Hanya dari sebuah kata telur.

Bisakah Anda membuat hal yang sama dengan kata "mentega"?

Kalau tidak bisa, berarti entah anda minim pengetahuan, malas, tidak kreatif, atau ketiganya.

Sebuah topik, tema, bisa dikembangkan menjadi puluhan, ratusan, bahkan ribuan ide yang bisa dijadikan tulisan. Coba saja kata "atom". Bendanya kecil sekali, tetapi ribuan, bahkan puluhan ribu orang hingga sekarang terus meneliti dan menghasilkan ribuan tulisan ilmiah tak hentinya.


Kenapa malas menjadi penyebab? Ya, tahu sendiri orang malas seperti apa. Ia tidak akan mau capek karena maunya enak terus. Padahal untuk mengembangkan sebuah ide perlu usaha , setidaknya untuk berpikir. Kalau untuk berpikir saja sudah tidak mau, yo wis, bagaimana mau mendapatkan pengembangan ide.

Tidak kreatif juga sebuah masalah karena ia seperti "kutu dalam kotak" dan sulit meloncat lebih tinggi. Ia tidak akan bisa melihat bahwa di luar kotak itu ada dunia luas penuh pepohonan. Yang kutu itu tahu adalah dunia seperti dinding segi enam, kubus saja.

Jadi, maaf seribu maaf.

Jangan pernah percaya kalau ada yang mengatakan bahwa membuat niche blog akan rentan kehabisan ide. Yang memberi saran sepertinya orang malas nan tidak kreatif binti minim pengetahuan.

Kecuali, Anda bilang bahwa Anda memang suka membuat blog gado-gado tanpa embel-embel alasan karena niche blog itu sempit dan sulit mencari ide.

Kalau itu, lain hal masalahnya. Suka atau tidak suka adalah urusan Anda, bukan saya.